Pergerakan Forex Trading

Pergerakan Pasar Forex

Forex merupakan pasar finansial yang teraktif dan terbesar di dunia. Hal ini disebabkan karena semua aktivitas ekonomi selalu melibatkan uang, terutama aktivitas ekspor dan impor yang melibatkan valuta asing. Perputaran uang per hari mencapai triliun dollar USD sehingga fluktuasi yang tercipta pun tak jarang terjadi dalam rentang harga yang lebar. Inilah salah satu penyebab forex trading semakin populer. Broker forex pun bermunculan di mana-mana, termasuk di Indonesia.

Pasar forex dunia selalu terkait satu sama lain, karena perputaran uang yang terjadi pun global. Oleh karena itu, kejadian-kejadian penting di penjuru dunia bisa dengan cepat mempengaruhi nilai tukar mata uang tertentu. Karena satu mata uang juga terkait dengan mata uang lain dalam currency pair, secara tidak langsung penguatan atau pelemahan mata uang tersebut juga berdampak pada mata uang lainnya.

Dalam artikel ini, kami akan membahas beberapa hal yang mempengaruhi Pergerakan Pasar Forex yaitu :

1. Ekonomi Dunia

Data ekonomi dirilis oleh instansi tertentu yang memberikan informasi pertumbuhan sektor ekonomi suatu negara seperti tingkat inflasi, suku bunga oleh bank sentral lapangan pekerjaan dan tingkat pengangguran, neraca perdagangan, perumahan, penjualan retail, sentimen bisnis dan sebagainya.

Selain itu perlu juga diperhatikan komentar atau pernyataan-pernyataan resmi yang berhubungan dengan kebijakan atau prospek ekonomi dari pejabat terkait seperti menteri keuangan atau menteri ekonomi, juga pejabat bank sentral.

2. Suhu Politik

Pemilu juga bisa berdampak cukup besar terhadap nilai mata uang suatu negara. Para pelaku pasar biasa melihat hasil pemilu sebagai pintu masuk bagi penentu kebijakan ekonomi negara tersebut. Jika pemenang pemilu adalah kubu yang dirasa “berpihak” pada kemajuan perekonomian, seringkali mata uang negara tersebut akan menguat. Bahkan hasil survey-survey politik yang dilakukan telah membentuk sentimen pasar akan prospek ekonomi ke depan. Meskipun belum terbukti hasil ataupun kinerja pemerintahan yang baru, seringkali hasil survey telah direspon.

Kita ambil contoh kasus dari dalam negeri. Mungkin masih segar dalam ingatan Anda tentang “Jokowi Effect” beberapa waktu yang silam. Meskipun saat itu belum terbukti, Jokowi telanjur menjadi figur yang cukup disenangi, sehingga pencalonannya saja pun telah mampu mempengaruhi nilai tukar rupiah dan IHSG.

Namun perkembangan politik selanjutnya justru membuat pelaku pasar”wait and see”. Rupiah masih tetap tertekan, IHSG pun naik-turun meskipun masih berada dalam uptrend sejak Jokowi menjabat presiden. Pergulatan politik yang terjadi meredam optimisme pasar. Kendati masih mempercayai program-program yang dicanangkan, namun ada kekhawatiran program tersebut akan dijegal oleh kepentingan beberapa golongan.

Intinya, jika situasi politik dianggap tak bersahabat bagi pertumbuhan ekonomi, maka biasanya pasar juga akan merespon negatif.

3. Bencana alam

Bencana alam yang luar biasa juga bisa berdampak. Gempa bumi, banjir, atau badai bisa merusak kehidupan rakyat suatu negara.  Secara langsung atau tidak, bisa juga berdampak pada nilai tukar mata uang.

Kerusakan infrastruktur memerlukan perhatian khusus karena ketersediaan infrastruktur dasar merupakan tulang punggung perekonomian. Jika tidak tersedia infrastruktur yang memadai, output ekonomi suatu kawasan tentu akan terganggu atau bahkan lumpuh. Belum lagi biaya yang harus dikeluarkan untuk memperbaiki dan merevitalisasi.

Tingkat belanja masyarakat juga bisa dipastikan akan berkurang karena mereka harus fokus pada upaya pemulihan pasca bencana. Jika respon pemerintah dianggap lambat, tingkat kepercayaan masyarakat dan investor juga akan berkurang. Pada tahapan yang ekstrim, ini bisa berakibat pada pelambatan ekonomi.

4. Perang

Dampak terjadinya perang juga sama dengan bencana alam. Kerusakan infrastruktur yang masif terjadi saat perang. Biaya yang dikeluarkan saat perang juga sangat besar, hampir pasti akan menyedot dana dari sektor lain, termasuk ekonomi sehingga perekonomian akan terganggu. Lebih daripada itu, perasaan aman yang diinginkan setiap investor tentu akan hilang ketika terjadi perang. Ketika investor merasa tak aman, mereka akan angkat kaki dari sana.

Meskipun demikian, terjadinya perang juga bisa jadi akan membawa manfaat bagi sektor tertentu, misalnya industri. Contohnya seperti yang terjadi pada Amerika Serikat saat berlangsungnya Perang Dunia II. Terlibatnya Amerika Serikat dalam Perang Dunia II membuat sektor industri di negara tersebut bangkit dari keterpurukan akibat Resesi Besar (Great Recession, sekitar tahun 1930-an). Sektor industri digenjot untuk memenuhi kebutuhan logistik dan persenjataan angkatan perang.

Related Posts to "Pergerakan Forex Trading"